Tuesday, January 14, 2020

Akuarium Amsterdam


Warning! sebagian orang mungkin terganggu dengan tulisan ini.

Cerita ini adalah sambungan dari "Petualangan Akuarium" yang pernah saya lakukan beberapa tahun silam.

Sinusitis akut dan malam dengan suhu mendekati beku gak menghentikan langkah saya dan Evi alias Ning Limbuk untuk berpetualang di belantara 'akuarium' a.k.a Red Light District paling tersohor di dunia yang terletak di Kota Amsterdam, yang sudah ada sejak tahun 1811 ini.

"Cuk, nanti lepas jilbabnya, yah, tutupin aurat kepala lo pake hoodie, biar orang-orang yang lagi 'main' di sana gak sungkan." pintaku ke Evi yang dibalas anggukan oleh doi.

Bukannya apa, selain untuk menghormati para pekerja seks di sana, kami juga ingin menjaga agar citra cewek berhijab tetap bagus di mata orang-orang. Dan gak lucu juga kan kalo ada cewek berhijab liatin orang ngewe di depan umum. Hahaha.

Jam menunjukkan pukul 22:00, waktu di mana para 'ikan-ikan' di akuarium baru 'buka toko'.

Dengan jantung berdegup kencang kami berjalan melewati kerumunan orang di sekitaran Red Light Distric. Kami menyimpan rapat-rapat handphone kami di saku supaya gak tergoda buat ngambil gambar di sana. Dengan tidak mengambil gambar di lokasi itu, kami ikut menghormati privasi para pahlawan devisa yang sedang bekerja di sana (Faktanya: lebih dari 75% pekerja seks di Amsterdam adalah dari luar negeri dan hanya sedikit yang asli Belanda, mereka mayoritas datang dari Eropa Timur, Afrika, maupun Asia)

Banyak aktivitas yang bisa dilakuin di Amsterdam, khususnya daerah Red Light Distric, berikut beberapa yang tertangkap oleh panca indera saya saat jalan ke sana:

1. Sex Museum
Ada banyak banget sex museum dengan berbagai jenis dan pesonanya. Isinya gak jauh-jauh dari kondom, dildo, fleshlight, dan alat-alat bantu sex mutahir lainnya. Beberapa ada juga yang lumayan edukatif seperti memamerkan sejarah sex dari masa-ke-masa.

2. LGBTQ Clubs
Amsterdam dikenal sebagai salah satu kota paling open-minded di dunia, salah satunya surga bagi para LGBTQ, di sini kamu tinggal nunjuk cafe-cafe bertajuk LGBTQ-friendly dengan berbagai konsep yang kamu suka. 

3. Wisata Akuarium
Yes, akuarium ini bukan sembarangan akuarium, melainkan ratusan etalase yang memajang wanita-wanita (konon ada yang pria juga, tapi so far kami gak nemu #ngarep, hahaha)

Tiba di lokasi, saya dan Evi disambut oleh jajaran wanita-wanita pekerja sex dengan berbagai macam bentuk, rupa, ukuran, umur, serta warna kulit. Semuanya berjajar dengan pakaian serba kekurangan bahan lengkap dengan bikini glow-in-the-dark dan pecutnya, semuanya berlenggak lenggok di dalam etalase kaca dengan lampu berwarna merah. Lampu warna merah konon dipercaya bisa membawa aura para wanita-wanita ini lebih appealing dan rwarrr!

Kami berjalan dengan pelan menikmati pemandangan yang tersaji di depan mata. Saya sempatkan untuk memandangi mereka satu-per-satu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Beberapa dari mereka memberikan tatapan menggoda kepada saya sambil sesekali melempar kerlingan mata, hingga menjulurkan lidahnya kepada saya, yang kalo di-translate dalam Bahasa Macedonia artinya "WANI PIROO?"


Beberapa ada juga yang sama sekali gak tertarik liat body dan muka saya yang pas-pasan ini, saking gak tertariknya sampe mereka pasang rolling eyes yang kembali kalo di-translate ke Bahasa Macedonia artinya "Hadeeh, kecil dan jelek.. Mana kerasa! Gak yakin punya duit juga."

ASEMMM!

Banyak yang pasti penasaran, gimana dengan muka para PSK ini? Cantik-cantik kah? Jawabannya adalah: yang cantik banyak, yang kurang cantik juga gak kalah banyak. Hahaha.

4. Sex Show
Ini highlight yang paling pengin kami tonton dan jarang ada di mana-mana. Please don't get us wrong, bukannya kami binal, tapi jujur kapan dan di mana lagi bisa lihat ginian kalau gak di Amsterdam?  Biarkanlah dosa tersebut kami yang tanggung. Hahaha.

Sex show sendiri dibagi jadi 2 jenis:
1. Solo
Nontonin cewek bugil yang lagi 'self-service'

2. Couple show
Nontonin orang ngewe, yang literally nonton ngewe di depan mata dengan mata telanjang. Sex show ini sendiri ada 2 jenis sex show pasangan normal cewek-cowok, ada juga pasangan gay alias hombreng.

Tarifnya pun ada beberap jenis:
Ada yang 45 Euros untuk pertunjukan show privasi (pertunjukan yang hanya untuk kamu, tanpa ada yang mengganggu)

Ada juga paket misqueen dengat tarif dua Euros, buat nonton rame-rame dengan durasi 2 menit. Tentu kami ambil paket yang super ekonomis ini. Hahaha! 

Kami memasuki pintu masuk dengan lampu gemerlap dan musik ajojing di dalamnya. Di dalamnya tersediakoi ATM, serta mesin penukaran koin 2 Euro-an.

Peraturan nonton ke Sex Show:
1. Boleh masuk bilik berpasangan asalkan lawan jenis (entah kenapa harus lawan jenis)
2. Tidak boleh melakukan masturbasi di dalam bilik tempat nonton sex show, jika ketahuan coli maka akan didenda 45 Euros. Hahaha.

Show Pertama, kami melihat sex show antara cewek vs cowok (cowok vs cowok atau gay juga sebenarnya ada tapi cuma pada hari-hari tertentu). Tempat pertunjukkannya berupa ruangan berbentuk bulat dikelilingi bilik-bilik mirip wartel tempat para pengunjung nonton. Layar display bertajuk "NOW SHOWING" menunjukkan bahwa pertunjukan sudah dimulai, saya dan Evi bergegas masuk ke salah satu biliknya. Kami selanjutnya memasukkan uang logam bernilai 2 Euros ke dalam vending machine yang tersedia, dan seketika terbukalah tirai kacanya!

JENG-JENG-JENG!!!!

Di dalam 'akuarium', telah standby sepasang bule telanjang di atas panggung yang berputar dan dikelilingi para muka binal para penonton di setiap biliknya. Si cowok tiduran dengan posisi telentang dan si cewek mulai memainkan jari jemarinya di otong si cowok (yang kalo buat nampar muka kamu bisa langsung peyot, hahaha!). Di saat-saat 'panas' itulah si Evi menjerit polos dari belakang saya, narik-narik baju sambil bilang:

Evi: "Ih ih ih... itu apaan? Kok gitu bentuknya?"
Saya: "Itu titit lahh! Lagi diemut itu!" 

Hahaha, sumpah! Ini adalah percakapan ajaib antara 2 insan bedebah yang layak dimasukkan dalam naskah dialog pemenang Golden Globes tahun 2121.

Show kedua, saya mencoba Sex Show di dalam bilik privat alias yang gak rame-rame. Kali ini saya masuk bilik sendiri, Evi saya minta nunggu di depan pintu. Saya mulai memasukkan koin 2 Euros saya ke vending machine. Layar kaca pun terbuka, tapi hampir 1 menit gak ada apa-apa yang terjadi. Di dalam bilik tersedia bell yang bisa dipencet untuk memanggil para pelaku show ini. Saya pun pencet tombol itu.

Pencetan pertama: "Teeeetttt!"

Dari dalam terdengar suara cewek berteriak, "Wait okay?"

Oh mungkin si doi lagi lepas baju. Bathinku.

30 detik kedua berlalu, si cewek masih belum keluar.

Pencetan kedua: "Teeeetttt!"

Si cewek berteriak, "Wait waittt, okay?"

Oh mungkin si doi lagi masang dildo. Bathinku.

30 detik ketiga berlalu, si cewek masih juga belum keluar. Saya pun habis kesabaran.

Saya kembali memencet bell dengan membabi buta: TETTTT!!! TEEEETT!! TEEETTT!!

Si cewek kembali berteriak "WAAITT! Why you aren't so patient?", sambil keluar pintu. Sesosok cewek bule pirang tinggi saat ini sedang berdiri tepat di depan saya. Gak seperti bayangan saya, si cewek ternyata masih pake pakaian lengkap.

Cewek:  "Okay, hi!"

Saya: "Hi..." 

Cewek: "So, is this your first time here?"

Saya: "Yes, but how do you know?"

Cewek: "I just, know... Hahaha" Doi ngakak.

Saya: Hahahah! (Asem, tau aja gue cowok lugu nan sucy murny)

Cewek: So, here is the rules. Because you only pay 2 Euros, so you won't able to see me naked. If you want to see me naked and see my pussy, you have to pay 45 Euros.

Saya: What? There's no information about it! (protesku)

Cewek: Yes, but what do you expect from 2 Euros? (tanyanya balik)

Saya: (Iya juga sih, bathinku) 

Cewek: So?

Saya: How about showing your boobs, just 2 seconds? (tawarku gak mau rugi, hahaha!)

Cewek: Sorry, I can't show my boobs...

Saya: But... 

Belum selesai menuntaskan protesku, si cewek menutup layar biliknya. BGST, 2 Euros-ku melayang! Saat membuka pintu keluar terdengar pengunjung lain yang juga misuh-misuh sambil teriak "F*CK I got nothing!" 

Hahahaha. ZONK semua.

Show terakhir adalah show rame-rame tentang cewek lagi masturbasi, saya pun memilih cewek yang paling cantik. Saya dan Evi kembali masuk ke bilik tempat show pertama tadi dipertontonkan. Kembali, koin kami masukkan dan layarpun terbuka!

Terpampang di depan kami sesosok cewek cantik nan seksi dan completely bugil sedang asik meremas-remas teteknya sambil sesekali membelai-belai selangkangan dengan gemulainya. Di show ini saya dan Evi lebih banyak diam dan memandang dengan seksama. Tidak terasa 2 menit hampir habis.

Saya yang masih belum merasa 'puas' bilang ke Evi, "Eh, cuk! Ada koin 2 Euro lagi gak? Gue mau lanjut!"

"Ada ini." Ucap si evi santuy sambil nyodorin koin bejat itu.

Saat hendak masukin koin ke vending machine, ternyata show si cewek cantik tersebut sudah berakhir dan berganti masuklah model yang lain dengan muka yang menyeramkan dan bikin gak napsu.

Saya pun keluar bilik dengan perasaan dongkol dan bete karena belum mencapai 'klimaks' tapi show-nya udah kelar.

Hamsiong tenan.