Monday, August 10, 2015

Cerita Dari Kusamba



Saya masih inget, pasir di pantai itu berwarna hitam pekat, mirip pasir di Pantai Parangtritis di Jogja tapi lebih legam lagi. Kira-kira itemnya kayak kulit saya lah. #exotizgelak

Saya mah orangnya gak rasis, sehingga pasir yang warnanya itempun tetep looks gorgeous for me. Siang itu, terlihat beberapa bapak-bapak sedang bahu membagu untuk menaikkan muatan yang akan dibawa ke pulau sebrang, Pulau Nusa Penida. Yep, saya sedang di Bali saat tulisan ini saya ketik.

As per recommendation from @duaransel dalam video ini, akhirnya saya horny untuk menjamah desa unik ini (bahasa lampu merahnya mulai keluar). Pantai Kusamba terletak di Desa Kusamba, sebuah desa pesisir Bali bagian Timur. Saya gak sempat cari tahu kenapa tempat ini bisa dinamain Kusamba (Apa mungkin dulu para warganya hobby nari Samba?). Yang pasti, saat itu, di pantai ini hanya ada satu turis--yaitu, the one and only, Gue!

Kaki buluk ini menuntun saya menuju sebuah gubuk dengan halaman lapang di depannya. Ketika saya mendekat, seorang Ibu bercaping (topi lebar khas petani-Red) menghentikan langkah saya.

"Hopp! Berhenti di situ saja!"

Saya kaget sekaligus bengong, melihat cara Ibu ini menghentikan langkah saya--seolah kaki ini hampir ngijek granat.

"Lewat sini." Tukas si ibu menunjuk saya ke jalan yang benar.

"Nah, kalo lewat sini baru benar, kalo lewat situ nanti pasirnya bisa kotor ntar garamnya gak enak."

Ah, akhirnya saya sampai di Kampung Kusamba, Kampung Legendaris Pembuat Garam khas Bali.

"Kenalkan saya Ibu Ketut! Bagus namanya siapa?"

"Nama saya bukan Bagus, bu. Nama saya Hasan."

"Oh, Bagus Hasan."

".........."

Panggilan “gus” atau “bagus” adalah lumrah di Bali, kata “gus” atau “bagus” yang artinya ganteng/tampan/baik #ehm, tentu saja ini untuk laki-laki. Di Bali, kata “gus” atau "bagus" sering digunain sebagai awal nama panggilan untuk golongan/kasta Ida Bagus dan juga kasta lainnya. Panggilan “gus” atau "bagus" bisa digunakan untuk orang yang belum  dikenal (biasanya digunain untuk SKSD gitu deh) tetapi yang umurnya sebaya atau lebih muda. Mirip seperti memanggil “nak” atau “dik” dalam bahasa Indonesia. 

Mungkin kalo saya lahir di Bali, saya lebih suka bila dikasih nama "I Gede Anune". #eh

Singkat cerita, Si Ibu Ketut mengantarkan saya melihat ladang garam dan gubuknya, tempat pengolahan garam. Peralatan di sini sederhana banget, pokoknya gak ada yang modern sama sekali! Suwer!

Ibu Ketut juga memperkenalkan saya kepada sepupunya:

"Perkenalkan saya Hasan, Bapak namanya siapa?"

"Panggil saja saya Bapak Ketut!" ucapnya mantap.

"........."

Saya seketika stress. Orang bali namanya sama semua.

Terlihat dari jarak sekitar 10 meter dari gubuk, ada seorang nenek-nenek (maaf) bertelanjang dada sedang duduk-duduk imut di teras. Menurut teman saya yang asli orang Bali, saat ini sudah semakin langka menemukan perempuan Bali yang masih memegang tegus tradisi dan adat istiadat, dalam hal ini, tidak memakai penutup dada/bertelanjang dada, kalaupun masih ada pasti umurnya sudah senja. *ngarep nemu yang masih muda*

Nenek itu menatapku dengan lekat, saya pun menunduk karena grogi. Mungkin bila saya bertanya, "Nama nenek siapa?"

Dia mungkin akan menjawab, "Panggil aja Tante Ketut!"

Dan saya pun mimisan sirup marjan.

Puas berkeliling ladang dan gubuknya, kami (saya dan Ibu Ketut) pun menyempatkan untuk ngobrol sejenak. Ibu Ketut mengeluhkan karena sekarang anak muda di sini sudah tidak ada lagi yang mau meladang garam, ketika sudah lulus SMA mereka akan keluar kota, ke Denpasar atau bahkan Jakarta untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. (Ehm, saya merasa tertampol)

"Dulu warga di sini semuanya bikin garam, tapi sekarang cuma tersisa sekitar 4 gubuk pembuat garam saja." Ucapnya lemas.

Saya mulai pasang muka sendu, sebagai bentuk rasa empati.

"Ngomong-ngomong Bagus sudah punya pacar?" Tanya Ibu Ketut membuyarkan empathy-face saya.

"Shit, ini pertanyaan paling mematikan!" gumamku dalam hati.

"Udah punya belom?" Serangnya lagi.

"Ehmm, hehehe. em... sudah, bu..." saya pun terpaksa berbohong, daripada dikatain, "HAHAHAHA JABLAY, LU YA!!!" sama Ibu Ketut, mendingan ngebokis aja.

"Lho? Kenapa gak diajak ke sini sekalian?" Si Ibu makin kepo.

"Hehehehehehehe"

"Kenapa, gus?"

FAK! She insisted. Can we talk about another topic, please? Talk about gimana caranya bikin rasa asin garam berubah jadi rasa markisa, mungkin?

"Anu, bu. Dia sedang kerja, dia sibuk banget. Jadi, sulit jalan bareng. Hehehhee."

"Emang pacarnya kerja apa, gus?"

Modyar!

"Pramugari, bu!" jawabku sekenanya.

"Hmm..." Si ibu manggut-manggut.

Setelah itu suasana jadi hening, cuma terdengar suara alunan angin laut dan ombak berdebur.

"Mau saya ajak ketemu seseorang?" tanyanya memecah keheningan.

"Hah? Siapa, bu?"

"Keponakan saya, dia cantik lo, nanti siapa tahu cocok."

"Lha? Kan saya udah bilang udah punya pacar, bu..."

"Sudahhh. Gak papa, nanti siapa tahu lebih sreg ama yang ini." Ucapnya sambil menyeringai.

Cadasss, Ibu Ketut menyuruh saya selingkuh (padahal, aslinya juga belom laku).

MAKKK TOLONGG!!! Saya belum siap terjebak dalam mahligai perjodohan antar suku!

Ibu Ketut nunjukin pasir garam

Garam siap nyemplung di panci

Jemuran Garam

Desa Kusamba Nan Permai

Para pekerja dan nelayan