Mimisan di Kashmir


Kashmir.

Mendengar namanya saja darah saya langsung berdesir, bibir saya kedutan, adrenalin saya membuncah.

Sebenarnya Kashmir tidak masuk dalam itinerary kunjungan saya ke India, tetapi melihat semua kota yang sudah saya kunjungi--Delhi, Kolkata, Agra, Jaipur, Jodhpur--semuanya panas dan saya gak mau kulit ini makin gosyong, maka saya pun membulatkan tekad untuk mengunjungi daerah paling berbahaya di utara India ini. Demi menghunjunginya, saya harus membatalkan tiket kereta Jodhpur - Jaisalmer saya. 5 jam sebelum berangkat saya pun book tiket pesawat menuju Kashmir *cipok kartu kredit andalan*

Kasmir adalah sebuah wilayah yang terletak paling utara dari negara India. Luas wilayahnya mencakup 3 negara, Pakistan di barat laut, India di bagian tengah dan barat laut, dan Tiongkok di bagian timur laut. Wilayahnya sampai saat ini masih menjadi sengketa antara ke tiga negara tersebut. Bila di lihat di Google Map terlihat jelas bahwa wilayah Kashmir ini dibatasi garis putus-putus (bukan garis tebal perbatasan suatu negara), yang menandakan bahwa nasib wilayah ini masih ngambang (seperti hubungan kita #eaa).

Berikut fakta yang saya temukan ketika mengunjungi Kashmir:

Drama Rikcshaw


Buat yang sudah pernah ke India pasti udah gak asing lagi dengan moda transportasi yang satu ini; Rikcshaw (dibaca: ˈrikˌSHô). Ya, kendaraan roda tiga ini emang selalu ada di hampir semua negara berkembang, khususnya Asia.

Anyway, di India ada 3 jenis Rickshaw; 

  1. Yang pertama Auto-rickshaw, yang dijalankan menggunakan mesin (kalo di Jakarta kita nyebutnya Bajaj, bentuknya sama plek, gak ada bedanya ama yang di Ibu kota)
  2. Yang kedua adalah Rickshaw Manual atau yang dijalankan dengan mengayuh pedal layaknya sepeda (mirip becak, tapi sopirnya di depan)
  3. Dan yang terkahir adalah Rickshaw (fully-manual) alias yang dijalankan hanya dengan menggunakan tenaga kaki manusia sebagai roda ketiganya, jadi sang driver akan berlari (layaknya kuda delman) sembari menggeret penumpangnya--yang leha-leha mempesona dikursi penumpang.

Dari ketiga jenis Rickshaw di atas, saya hanya pernah mencoba 2 jenis, auto-rickshaw dan rickshaw manual yang menggunakan pedal. Saya belum memberanikan diri menggunakan rickshaw jenis terakhir dengan alasan 'perikemanusiaan dan perikeadilan' alias 'gak-tega-bo-kasian'. :((

Di post ini saya akan berbagi pengalaman saya selama menggunakan moda transportasi super-keceh ini.

Iming-iming Swimming


Salah satu kelemahan dari kebanyakan travelers Indonesia--termasuk saya--adalah tak lain dan tak bukan; gak bisa berenang.

Menurut kamu apa sih yang menjadi alasan kenapa traveler Indonesia banyak yang gak bisa berenang? Mari kita bahas satu-per-satu:

Kenangan buruk
Bukan hanya kenangan buruk dengan mantan atau kenangan buruk disodomi temen SMA (lha? yang ini serius bukan gue!) saja yang bisa membekas di hati, tetapi pengalaman buruk ketika berenang di masa kecil juga bisa membuat kita phobia. Saya salah satunya. Pada saat SD saya pernah disodomi tenggelam di kolam renang yang cukup dalem, untungnya pada saat itu ada anak SD lain yang jago renang yang akhirnya menyelamatkan saya. Mulai saat itu saya tidak akan mau lagi berenang ataupun belajar berenang. 

Kurangnya Fasilitas
Coba jawab pertanyaan berikut:
- Apakah setiap sekolah punya lapangan sepak bola? Mayoritas iya. 
- Nah sekarang, sekolah mana yang mempunyai kolam renang khusus buat para muridnya? Ada sih, tapi sangat jarang. 

Padahal menurut saya, olahraga berenang gak kalah penting daripada sepak bola. Selain menjaga kebugaran, skill berenang bisa menjadi bekal penyelamatan diri (contoh: ketika tsunami atau banjir), coba bayangkan bila warga Aceh semuanya bisa berenang, bisa dipastikan bahwa korban tsunami pada Tahun 2004 tidak akan sebanyak itu.

Untuk itulah, pelajaran berenang harusnya dimasukkan dalam kurikulum sekolah! MARI BIKIN PETISI! (kok jadi kayak demo gini, yah?)

Takut item
Mau jujur atau enggak, di Indonesia masih banyak orang yang rasis--termasuk saya--yang menganggap kulit item itu jelek, kumuh, jorok, kampungan, kotor, gak hedon, dan lain-lain. 

Cerita Dari Kusamba



Saya masih inget, pasir di pantai itu berwarna hitam pekat, mirip pasir di Pantai Parangtritis di Jogja tapi lebih legam lagi. Kira-kira itemnya kayak kulit saya lah. #exotizgelak

Saya mah orangnya gak rasis, sehingga pasir yang warnanya itempun tetep looks gorgeous for me. Siang itu, terlihat beberapa bapak-bapak sedang bahu membagu untuk menaikkan muatan yang akan dibawa ke pulau sebrang, Pulau Nusa Penida. Yep, saya sedang di Bali saat tulisan ini saya ketik.

As per recommendation from @duaransel dalam video ini, akhirnya saya horny untuk menjamah desa unik ini (bahasa lampu merahnya mulai keluar). Pantai Kusamba terletak di Desa Kusamba, sebuah desa pesisir Bali bagian Timur. Saya gak sempat cari tahu kenapa tempat ini bisa dinamain Kusamba (Apa mungkin dulu para warganya hobby nari Samba?). Yang pasti, saat itu, di pantai ini hanya ada satu turis--yaitu, the one and only, Gue!

Kaki buluk ini menuntun saya menuju sebuah gubuk dengan halaman lapang di depannya. Ketika saya mendekat, seorang Ibu bercaping (topi lebar khas petani-Red) menghentikan langkah saya.

"Hopp! Berhenti di situ saja!"

Ngebacot Bareng Bule


Saya sering bertanya-tanya dalam hati ketika mendapati beberapa teman saya yang jago ngomong dengan bahasa Inggris. Emang kenapa? Padahal kebanyakan dari mereka tidak pernah kuliah jurusan Bahasa Inggris (kebanyakan ngambil jurusan Grogol-Kalideres), loh!

Btw, saya yang ngambil kuliah jurusan Bahasa Inggris, yang notabene EMPAT TAHUN bergelut dengan bahasa Inggris aja bahasa inggrisnya masih belepotan. Bahkan ketika ngelamar kerjaan pun sang interviewer sampai ngomong di depan muka saya, “Jurusan Bahasa Inggris tapi bahasa Inggrisnya parah gini, yah?”

#Jlep

#MalunyaTuhDisini

*nunjuk selakangan*

Untuk mancari tahu teka-teki tentang bagaimana-teman-temanku-English-nya-bisa-yahud, maka saya pun menginvestigasi mereka satu-persatu. Berikut beberapa penemuan saya:


Dugem Ehem


[Beberapa nama tempat dalam cerita ini sengaja saya sembunyikan demi menjaga harkat dan martabat tempat tersebut]


*Suatu malam yang kelam, di sebuah hostel di kawasan Jl. Gajah Mada, Jakarta.*

"OO, SHIT, THERE IS NOTHING TO DO IN THIS CITY. THIS CITY'S JUST LIKE SHIT!" Ivo, si bule gondrong dari Spanyol memasuki kamar hostel sambil misuh-misuh gak jelas, membuyarkan rumpik-asik saya dengan Gustav, si bule muda belia asal Swedia.

Gustav hanya tersenyum simpul menanggapi amukan si gondrong, sedangkan saya hanya ngakak (dalam hati) karena baru kali ini melihat seputung bule (rokok, kalee) misuh-misuh tentang tempat yang dulunya menjadi "dream destination"-nya, Jakarta. Saya penasaran, Opo, seh, yang sebenarnya dia cari di kota se-'permai' Jakarta ini?

"Gue kira Jakarta, tuh, keceh badai gitu. Taunya macettt, panas! Hahhh" Cerca si gondrong sambil begidik.

Dua backpackers dari Malaysia  akhirnya menyarankan solusi atas keresahan si bule gondrong dengan mengajaknya dugem. "Hey, Hans, awak tahu location of some pubs or diskotik near from here?"

Saya hanya menggeleng cengeng, karena dengan umur se-'senja' ini saya (akui kalo saya memang) belum pernah dugem, apalagi di Jakarta. *self-puk-puk!*

Si Malaysia pun melenggang nanyain ke petugas hostel. Setelah beberapa menit, si Malaysia kembali ke kamar membawa kabar menyegarkan.

"Guys! How if we go to a discotique, now?"

Nostalgia Kebun Binatang


Beberapa minggu yang lalu, dalam rangka acara kantor, saya sempat bertandang ke Kebun Binatang Ragunan. Jangan tanya kantor saya bergerak di bidang apa sampai dengan semena-menanya mengadakan acara di Kebun binatang.

Eniwey, bertandang ke kebun binatang ternyata bisa membawa saya melebur dalam sebuah nostalgia. nostalgia dimana saat pertama kali saya berkunjung ke kebun binatang. Tepatnya nostalgia saat pertama kalinya traveling.

Nebeng Cengeng

“Dari sini sudah tidak ada angkot lagi, kamu harus naik ojek.” Ucap si abang angkot.

Saya menoleh kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah, mencari kehadiran sesosok abang-abang tukang ojek yang bisa mengantarkan saya ke Situs Gunung Padang.

Nihil.

Sebuah papan penunjuk bertuliskan “Situs Gunung Padang 7 Km” mantap berdiri tegak dihadapan saya seolah berucap, “Hayo, kuat, gak, jalan ke Gunung Padang? Cuma 7 Km aja, kok, cyin!”

Tak punya pilihan, saya menerima tantangan itu. 30 menit berjalan, kaki saya mulai merengek manja. Mungkin saya kuat berjalan dari Grogol ke Monas dengan jalan kaki non-stop, tapi saya lupa ini adalah jalanan pegunungan yang menanjak—menjurus ke curam.

“No, Gue gak kuat. Ampun!” *Mewek di pinggir jalan sambil ngemil daun teh.*

Sadar; menangis bukanlah solusi, saya pun mencoba melakukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya coba yaitu; Hitchhike, bahasa tagalog-nya nebeng.

Virus Cinta Lingkungan

ASAL MULA

Sejak kecil kita pasti sudah sering melihat info peringatan “Jangan Buang Sampah Sembarangan” atau “Buanglah Sampah Pada Tempatnya” atau “Jagalah kebersihan”. Di pinggir-pinggir jalan, di sekolahan, bahkan di bungkus mamee (makanan ringan anak 90’s #eh) semua memasang peringatan tersebut. Ketika di Kediri (kampuang halaman akoh-red), hal tersebut mungkin masih possible untuk terealisasi, dengan masih banyaknya lahan kosong, sampah pun masih bisa dimusnahkan; baik itu di daur ulang, di jual penampung, di kubur ataupun di bakar si belakang rumah.

Ketika merasakan hidup selama hampir satu tahun di Jakarta, saya rasa jargon Luhur “Buanglah Sampah Pada Tempatnya” itu tampaknya sulit untuk terlaksanana di kota ini. Bayangin aja berton-ton sampah dihasilkan tiap hari. Okelah, di depan tiap rumah pasti ada tong/bak sampah atau okelah, pasti ada pemulung/petugas kebersihan yang mengangkutnya setiap hari. Tapi ujung-ujungnya, dengan kondisi perkotaan Jakarta yang super padat—sepadat dada JUPE—tetep aja bingung nyari tempat buat ngumpulin sampah yang jumlahnya berjuta-ton tersebut.

“Buanglah Sampah Pada Tempatnya”?

Alhasil, banyak orang malah balik bertanya; “Tempatnya Mana?”

Bisa di bilang, mungkin orang Jakarta memang sudah “saking frustasi”-nya sehingga sungai dan laut pun menjadi jawaban atas pertanyaan “Tempatnya Mana?” di atas. #DilemaJakarta

REALITA

“Hans, ke Pulau Seribu, yuk! Naik perahu cuma 30 ribu PP dari Muara Kamal.” Iming-iming si Ruslan, teman blogger saya, melaui Whatsapp.

Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung menjawab, “MAUUUUU! BESOK BERANGKATTT!”

Malamnya, sudah bisa di tebak, saya gak bisa tidur karena sibuk membayangkan keindahan Pulau Seribu dengan terumbu karangnya. Gak sabar buat snorkeling. Gak sabar ketemu nemo. Gak sabar ketemu bulu babi dan bulu-bulu yang lainnya!