Sial Atau... Banget?

Hidup tak ubahnya ombak samudra; kadang tenang, kadang berombak ganas. Kadang kita diatas, kadang kita di bawah (paling suka yang ‘tengah-tengah’, sih). Kadang kita melambung tinggi, kadang kita terperosok ke lembah nista (comberan got-Red). Kadang suka, kadang duka (Kalo dalam bahasa India: Kabhi Khushi Kabhi Ghum. [Lho?]). Kadang beruntung, kadang sial. Keduanya selalu datang silih berganti. Tak jarang beriringan. 

2 bulan ng-eksis di Jakarta memaksa saya untuk bersahabat dengan transportasi kebanggaan Jakarta, Baswe. Malam itu, sehabis mengunjungi beberapa museum di Jakarta, seperti biasa kita harus menunggu sang pujaan hati tiba, baswe. Badan rasanya udah mau rontok, pegal semua, ditambah ransel yang lumayan berat, di tambah hujan, di tambah gue jomblo, menjadikan malam itu malam yang...—ibarat penyakit kangker, udah “stadium 21”/ibarat gunung, statusnya “ERUPSI”—Mematikan.

Belum juga baswe datang, triliyunan penumpang lain pun mulai mengerubuti dan menyerbu halte. Demi keamanan barang bawaan, saya pun mencoba merubah posisi ransel dari posisi belakang ke depan, dari pundak ke dada, biar bisa di peluk gitu (lumayan 'helpful', sih, buat gue). Ketika saya mulai merenggangkan sikut--dalam upaya merubah posisi ransel di tubuh saya--, tiba-tiba...

"Awwwwww"

Suatu Hari di Pecinan Glodok


Suatu pagi di Pecinan Glodok, Jakarta...
"Majalahnya berapaan, bang?"

"Lima rebuan." Ucap si abang sambil ber-hi-five.
Muree banget emang, namanya juga majalah bekas! Tapi, spesial waktu itu yang saya beli bukanlah majalah bekas, tapi majalah new release alias baru terbit--yang setelah saya perhatikan cover-nya ternyata tertempel sebuah stiker yang kurang lebih berbunyi, "HANYA UNTUK DIBACA, TIDAK UNTUK DIBAWA PULANG!" Lha, trus, ini majalah ngutil dari mana?
Lupakan darimana majalah itu berasal. Yang pasti kala itu hatiku serasa bergelora sekaligus gembira loka mendapat majalah baru--baru ngutil--dengan harga super murah. Glodok gitu loh!

Jagalah "Dia"

Perhatian, postingan ini mengandung perbuatan yang tercela. Plis, jangan ditiru, yah, adek-adek! 

Beginilah nasib traveler kere (bukannya ngaku-ngaku kere, tapi emang beginilah adanya. Gak percaya? Belahlah dompetku! *isinya daun singkong*) apa-apa masih harus minjem. Dulu waktu masih awal-awalnya suka traveling, sebelum berangkat jalan-jalan, ritual pertama yang saya lakukan adalah nyari pinjeman ransel. Kere banget, kan? Ransel aja masih minjem. *nangis lewat udel*

Sawah vs Ladang Garam



"Di Kediri sawah yang bagus dimana, yah, kira-kira?" Tanya Agista ke saya.

"Heh? Sawah? Dimana-mana sawah sama aja, kalee." Jawab saya sekenanya.

"Serius, nih, gue nanyak!" Agista mulai nyolot.

"Ngapain lo nanya-nanya sawah? Mau jadi banci sawah, lo?"

"Tante gue dari Jakarta pengen maen ke Kediri buat liat sawah. Dia belom pernah liat sawah."

DEG!!! HELOOOW, SAWAH GITU, LOH!

Air Terjun Penganten (Bisulan)

Bicara tentang tempat-tempat indah eksotis nan bombastis bin erotis pasti pikiran kita akan langsung ngepot menuju spot yang belum terjamah, terekspos ataupun terendus oleh khalayak. #BahasaSilet

Sebagian orang --termasuk saya-- pasti berpikir bahwa able to explore the new exotic place is keren banget! Dan karena saya termasuk cowok yang masih ABABIL (Abege Bau bAn moBIL) terkadang timbul sesuatu ego yang membuat saya penasaran dan terpancing untuk menemukan tempat eksotis yang CTAR CTER tersebut (pecut kalee CTAR CTER). Tapi setelah kejadian ini saya tersadar bahwa Explorer Dongo + Obsesi Kepo = PETAKA!

Fake Photographer (Moral of Story)

Ketika jalan-jalan dan melihat tempat baru saya tak akan melewatkan sedikitpun momen yang ada di depan mata. Ketika itu pula kamera (pinjeman) saya akan bekerja. Jepret sono jepret sini. Semuanya saya jepret. Mumpung gitu loh! :D 

R.E.L.A.T.I.F


Banyak yang bilang kalo hidup itu relatif. Ganteng itu relatif. Cantik itu relatif. Kayaknya cuma jelek yang absolut. Selebihnya relatif. 

Relatif dalam artian bahwa setiap orang punya pandangan dan pendapat yang berbeda-beda dalam melihat ataupun menilai sesuatu.

Kasus 1: 

"Nabilah JKT48 tuh cantik banged pake "d" yah?" Ucapku ketika melihat poster JKT48 di pinggir jalan.

"Ih, cantikan Melody,  lah!" Agista nyolot.

"Cantikan Nabilah, donk!"

"Melody!"

"NABILAH!"

"MELODY!"

*kemudian kami jambak-jambakan*

"Udeh-udeh, cantikan Ola Ramlan, kalee!" Lerai salah seorang teman.

"...."

Ya. Relatif. 

Rumah Pagupon

Entah kenapa perasaan saya mulai campur aduk ketika akan memasuki rumah Yogi. Hati saya tambah gak keruan ketika Yogi mengantar kami (Saya dan Agista) menuju kamar yang akan kami inapi. 

"Oke, lewat sini." Ucap Yogi sambil menaiki tangga menuju lantai dua.

Bukan. Rumah tersebut berlantai dua bukan karena mewah bak apartement, tetapi karena lahannya yang terlalu sempit sehingga berlantai dua. Dari jauh rumah tersebut mungkin lebih mirip "pagupon" --semacam rumah kayu bertingkat yang biasa kita kenal sebagai kandang burung dara. Hal ini kian dipertegas dengan keadaan lantai bawah rumah tersebut yang berfungsi sebagai mebel --penuh tumpukan kayu serta aneka furniture. 

Senada dengan apa yang ada dalam pikiran saya, Agista pun berbisik, "Ini rumah, apa pagupon?" :)

---------------------------------

Tips Horror Trip (THT)

Horror Trip. Diakui atau tidak, trip yang beginian memang banyak diminati. Sensasi begidik di tempat spooky bin creepy memang gak kalah seru dengan sensasi Sumur Jumping. Ralat. Maksudnya bungee jumping.

Hal ini bisa dibuktiin dengan makin maraknya atraksi rumah-rumah hantu yang menjamur di berbagai shopping center alias Mol-mol gede. Meski setannya gak lebih serem dari botol viagra merk cobra tapi tetep banyak aja tuh peminatnya.

By the way, ada riset yang membuktikan bahwa, "Secara psikoligis manusia itu pada hakikatnya senang ditakut-takutin". Maka, no wonder jika banyak orang yang rela membayar mahal untuk bisa merasakan ketakutan itu. #AnehTapiNyata (Sumber: Screamworld.com)

Well, meski kelihatannya "fun" tapi perlu digarisbawahi bahwa Horror Trip (kecuali yang hantu moll, yak) adalah suatu kegiatan yang penuh risiko. Tak sedikit pula nyawa taruhannya. *bulu ketek seketika berdiri* 

So, biar semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada rintangan, berikut Tips Horror Trip (THT) buat yang ngaku "horror junky". Semoga manpaat. Amin.

[Perhatian tips berikut hanya berdasarkan pengalaman penulis dan berbagai sumber. Enihao, keberhasilan Horror Trip tetap tergantung pada nasip].