Tuesday, January 15, 2019

Ngorokmu, Deritaku - Kisah Pilu Ngorok di Berbagai Negara


Ngomongin pengalaman menginap di hostel memang tidak akan ada habisnya. Kali ini saya akan membahas topik yang bisa dibilang menjadi polemik di kalangan para traveler, yang tak lain dan tak bukan adalah "Ngorok" alias "Mendengkur", serta pengalaman saya tersiksa di berbagai negara karena roommates yang ngorok.

Mendengkur secara harfiah dapat diartikan sebagai suara yang ditimbulkan saat tidur karena adanya getaran jaringan pada saluran udara bagian atas. Suara yang ditimbulkan bisa berbagai macam level-nya:

Level 1 - Level Hembusan:
Level mengganggu: Tidak mengganggu, mengingat suara yang ditimbulkan tidak terlalu keras
Ngorok jenis ini biasanya cuma berupa suara seperti nafas yang terengah-engah, bisa terjadi saat ketika orang pilek, ataupun orang dengan asma ringan, atau sedang kecapekan. Beberapa orang bilang saya termasuk dalam level ini saat pilek atau cape (tapi banyakan bilang kalau saya sama sekali tidak mendengkur)

Level 2 - Level Normal:
Level mengganggu: Level suara yang ditimbulkan pada ngorok jenis ini bisa tergolong normal, sehingga tidak terlalu mengganggu, saat kamu benar-benar dalam kondisi mengantuk, suara tersebut malah bisa jadi lagu nina bobo buat kamu

Level ini yang paling dialami banyak orang (setidaknya ini dari survey orang-orang yang pernah tidur bareng sama saya), suara yang ditimbulkan biasanya berupa "Grrr... Grrr... Grrr..." atau "Ngookkk... ngookk... ngook..!" yang mendayu-dayu, seirama, dan berkesinambungan, merdu merayu.

Level 3 - Level Ngagetin:
Suara ngorok yang ditimbulkan oleh jenis ini bisa dibilang "Mengganggu". Selain suara yang ditimbulkan keras, melody yang tercipta dari dengkuran jenis ini bisa dibilang sangat tidak teratur sehingga bisa ngagetin teman tidurnya, seperti:

"NGOOOK NGRAKKKK! KRAAAKK NGAAAKK GROKKKK! GRRRR!!!... NGOOOKKK!! GROOOKKK!!!! GRAAAKKK! BRRRRR!!! NGOAKK!!!"

Suara di atas yang pasti cukup menyeramkan dan bikin kamu pengen membinasakan orang tersebut pake bantal ileran trus kekepin ke mulut mereka!

Mendengar dengkuran sudah menjadi resiko buat para budget travelers saat menginap di hostel/dorm--tempat di mana rasa saling menghargai, dan tenggang rasa dijunjung tinggi. Berikut kisah saya berjibaku bareng room mates dengan talenta ngoroknya.

Sunday, July 22, 2018

The Deadly Beautiful, Ladakh!


Pesawat bercat orange-kemerahan milik India Air take off dengan elegan di atas langit kota Delhi yang berkabut karena polusi. Saya senyum-senyum senang karena setelah sekian lama, saya akhirnya bisa berkesempatan berkunjung ke negeri atas awan, atap dunia, Himalayan-Ladakh.

Banyak orang tertarik ke Ladakh setelah nonton filem blockbuster 3 Idiots. Tapi saya sendiri jujur belum pernah lihat filemnya. Saya cuma sekali lihat cuplikan film tersebut saat adegan Si Aamir Khan cipokan ama Kareena Kapoor di Danau Pangong Tso. Tapi itu belum cukup bikin saya ngiler ke Ladakh. Saya lebih tertarik dengan kehidupan warga Ladakh beserta biksu-biksunya yang memiliki karakter wajah berbeda dari kebanyakan warga India, saya lebih tertarik dengan pegunungan salju abadi pencakar langitnya,  saya lebih ngeces dengan monastery-monastery megah yang terpahat indah dipuncak gunung yang terjal.

Sepanjang perjalanan saya tak henti-hentinya tersenyum, senyum saya makin lebar saat pemandangan hijau daratan berubah menjadi cokelat dengan bercak-bercak putih salju--Pesawat kami mulai memasuki garis teritori pegunungan Himalaya. Rentetan pegunungan Himalaya menjulang gagah mulai dari Myanmar, Bhutan, Tibet di China, Nepal, India, dan Pakistan.

Semakin lama, gunung-gunung salju mulai terlihat semkain dekat dari atas pesawat.

"Flight attendants, prepare for landing!" suara macho sang kapten dari meja kemudi seketika bikin senyum saya makin lebar. Saya akan landing di Leh, Ladakh, Salah satu airport TERTINGGI DI DUNIA, GAESSS!

Thursday, December 28, 2017

Gebet Aku, Mbak!



Banyak temen yang tanya ke saya, "San, lu kalo traveling kok sama cowok terus? Lo normal, gak, sih? Lo GAY, ya?"

Biasanya saya akan jawab, "Iya, kenapa? Gue mau nikah ama cowok gue di Belanda taun depan, dateng, ya!"

*temen begidik, trus nenggak se-ember cat Catylac warna hijau neon*

Ya, saya memang lebih sering traveling dengan cowok, tapi jujur saya masih 98 persen normal kok, 2 persennya lebih sering khilaf *ngakak banci kaleng*.

Jujur, saya kurang handal soal deketin cewek. Bahkan dari keseharian, saya saya lebih sering ditembak cewek dari pada nembak (sayangnya cuma di dunia mimpi)

Kenapa saya lebih sering traveling sama cowok? Satu-satunya jawaban kuat adalah: Cowok lebih mudah diajak jalan dari pada cewek. Etapi it's true. Nyatanya ngajak cowok jalan lebih gampang, baru pertama ketemu di hostel tinggal bilang:

Gue: "Hey, what's up! What's your agenda tomorrow?"

Cowok bule: "Um, no idea, what about you?"

Gue: "What if we go here! People said it's great place and easy to reach only by 50 mins bus."

Cowok: "Cool, we go together tomorrow at 9, OK?"

(((JADIAN DEH)))

Gimana ceritanya ketika saya mau ngajak cewek backpacker jalan?

Sunday, September 17, 2017

Oleh-oleh Baper Saat Traveling


Berbagai macam alasan orang melakukan traveling, antara lain:
1. "Having fun!" mungkin menjadi jawaban yang sering terlontar dari mulut para traveler pada umumnya
2. Cari jodoh
3. Pengen exist, hits, atau kekinian
3. Ada yang agak puitis seperti menemukan diri atau menemukan arti hidup
4. Kepengen baper: yang ini adalah kriteria saya

Baper, singkatan dari "Bawa Perasaan", kalo diartiin dalam bahasa Pekalongan akan menjadi "Take something personally" atau "Bring feelings". Ya, saat traveling saya akan selalu baper, baik saat ketemu traveler lain, ketemu host yang baik, melihat indahnya arsitektur negeri rantau, mengamati eloknya alam di tempat asing. Semuanya akan langsung membikin saya baper. Saat traveling saya gak akan bawa oleh-oleh. Cukup bawa perasaan - karena murah & awet.

Berikut oleh-oleh baper saya...

Sunday, May 21, 2017

Gorgan, Bawa Perasaan


[Cerita berikut ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya "Bocah Kampung Goes to Iran (baca dulu biar nyambung)]

"You are from Malaysia? No need Visa. You are our brother. Welcome to Iran." ucap bapak-bapak petugas imigrasi dengan senyum ramahnya ke warga Malaysia.

"Hey, you! Where are you from?" Mimik muka si bapak berubah 390 derajat saat melihat saya.

"I... Indonesia, sir..." Jawabku gugup.

"Insurance? Done?" Tanyanya jutek.

Saya mengangguk sambil menyerahkan paspor serta formulir pengajuan VOA saya.

"Wait, over there! NEXT!!!" Ucapnya sambil ngusir.

Duh, aku iri dengan perlakuan mereka ke warga Malaysia. AKU IRIIII DAN DENGKIII!

Saturday, April 15, 2017

Myanmar: Cetar Tapi Kurang Tenar


Nama Myanmar mungkin termasuk yang paling redup pamornya di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya. Saya pernah iseng mengetes beberapa pertanyaan kepada teman-teman saya.

Ada yang menganggap kurang menarik.
Saya: Udah pernah kemana aja?
Temen: Asean udah khatam! 
Saya: Udah pernah ke Myanmar?
Temen: Belom, sih. Gak tertarik. Emang ada apa di sana?
Saya: ...

Ada pula yang menganggap berbahaya:
Saya: Gue mau ke Myanmar
Temen: Ih, ati-ati lo! Ntar dianiaya ama warga sana kayak suku Rohinya!
Saya; ....

Kasus yang ke-2 mirip doktrin orang luar yang menganggap bahwa "Indonesia adalah identik dengan Tsunami". Namun, bagi saya Myanmar adalah salah satu negara paling unik di Asia Tenggara. Berikut Keunikan negara Myanmar yang cetar tapi kurang tenar:

Sunday, December 18, 2016

Bocah Kampung Goes to Iran


Traveling ke Iran sudah menjadi mimpi dengan peringkat ke-2 saya setelah traveling ke India. Perjalanan ke Iran bahkan sudah saya persiapkan sejak tahun 2012, saat saya masih kuliah semester 6. 

TAHUN 2012
Sadar bahwa saya kere, saat itu saya mulai mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari:
1. Di mana saya nantinya menginap?
2. Soal Visa gimana?
3. Kalo ada apa-apa siapa yang nolong?