Dugem Ehem


[Beberapa nama tempat dalam cerita ini sengaja saya sembunyikan demi menjaga harkat dan martabat tempat tersebut]


*Suatu malam yang kelam, di sebuah hostel di kawasan Jl. Gajah Mada, Jakarta.*

"OO, SHIT, THERE IS NOTHING TO DO IN THIS CITY. THIS CITY'S JUST LIKE SHIT!" Ivo, si bule gondrong dari Spanyol memasuki kamar hostel sambil misuh-misuh gak jelas, membuyarkan rumpik-asik saya dengan Gustav, si bule muda belia asal Swedia.

Gustav hanya tersenyum simpul menanggapi amukan si gondrong, sedangkan saya hanya ngakak (dalam hati) karena baru kali ini melihat seputung bule (rokok, kalee) misuh-misuh tentang tempat yang dulunya menjadi "dream destination"-nya, Jakarta. Saya penasaran, Opo, seh, yang sebenarnya dia cari di kota se-'permai' Jakarta ini?

"Gue kira Jakarta, tuh, keceh badai gitu. Taunya macettt, panas! Hahhh" Cerca si gondrong sambil begidik.

Dua backpackers dari Malaysia  akhirnya menyarankan solusi atas keresahan si bule gondrong dengan mengajaknya dugem. "Hey, Hans, awak tahu location of some pubs or diskotik near from here?"

Saya hanya menggeleng cengeng, karena dengan umur se-'senja' ini saya (akui kalo saya memang) belum pernah dugem, apalagi di Jakarta. *self-puk-puk!*

Si Malaysia pun melenggang nanyain ke petugas hostel. Setelah beberapa menit, si Malaysia kembali ke kamar membawa kabar menyegarkan.

"Guys! How if we go to a discotique, now?"

Nostalgia Kebun Binatang


Beberapa minggu yang lalu, dalam rangka acara kantor, saya sempat bertandang ke Kebun Binatang Ragunan. Jangan tanya kantor saya bergerak di bidang apa sampai dengan semena-menanya mengadakan acara di Kebun binatang.

Eniwey, bertandang ke kebun binatang ternyata bisa membawa saya melebur dalam sebuah nostalgia. nostalgia dimana saat pertama kali saya berkunjung ke kebun binatang. Tepatnya nostalgia saat pertama kalinya traveling.

Nebeng Cengeng

“Dari sini sudah tidak ada angkot lagi, kamu harus naik ojek.” Ucap si abang angkot.

Saya menoleh kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah, mencari kehadiran sesosok abang-abang tukang ojek yang bisa mengantarkan saya ke Situs Gunung Padang.

Nihil.

Sebuah papan penunjuk bertuliskan “Situs Gunung Padang 7 Km” mantap berdiri tegak dihadapan saya seolah berucap, “Hayo, kuat, gak, jalan ke Gunung Padang? Cuma 7 Km aja, kok, cyin!”

Tak punya pilihan, saya menerima tantangan itu. 30 menit berjalan, kaki saya mulai merengek manja. Mungkin saya kuat berjalan dari Grogol ke Monas dengan jalan kaki non-stop, tapi saya lupa ini adalah jalanan pegunungan yang menanjak—menjurus ke curam.

“No, Gue gak kuat. Ampun!” *Mewek di pinggir jalan sambil ngemil daun teh.*

Sadar; menangis bukanlah solusi, saya pun mencoba melakukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya coba yaitu; Hitchhike, bahasa tagalog-nya nebeng.

Virus Cinta Lingkungan

ASAL MULA

Sejak kecil kita pasti sudah sering melihat info peringatan “Jangan Buang Sampah Sembarangan” atau “Buanglah Sampah Pada Tempatnya” atau “Jagalah kebersihan”. Di pinggir-pinggir jalan, di sekolahan, bahkan di bungkus mamee (makanan ringan anak 90’s #eh) semua memasang peringatan tersebut. Ketika di Kediri (kampuang halaman akoh-red), hal tersebut mungkin masih possible untuk terealisasi, dengan masih banyaknya lahan kosong, sampah pun masih bisa dimusnahkan; baik itu di daur ulang, di jual penampung, di kubur ataupun di bakar si belakang rumah.

Ketika merasakan hidup selama hampir satu tahun di Jakarta, saya rasa jargon Luhur “Buanglah Sampah Pada Tempatnya” itu tampaknya sulit untuk terlaksanana di kota ini. Bayangin aja berton-ton sampah dihasilkan tiap hari. Okelah, di depan tiap rumah pasti ada tong/bak sampah atau okelah, pasti ada pemulung/petugas kebersihan yang mengangkutnya setiap hari. Tapi ujung-ujungnya, dengan kondisi perkotaan Jakarta yang super padat—sepadat dada JUPE—tetep aja bingung nyari tempat buat ngumpulin sampah yang jumlahnya berjuta-ton tersebut.

“Buanglah Sampah Pada Tempatnya”?

Alhasil, banyak orang malah balik bertanya; “Tempatnya Mana?”

Bisa di bilang, mungkin orang Jakarta memang sudah “saking frustasi”-nya sehingga sungai dan laut pun menjadi jawaban atas pertanyaan “Tempatnya Mana?” di atas. #DilemaJakarta

REALITA

“Hans, ke Pulau Seribu, yuk! Naik perahu cuma 30 ribu PP dari Muara Kamal.” Iming-iming si Ruslan, teman blogger saya, melaui Whatsapp.

Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung menjawab, “MAUUUUU! BESOK BERANGKATTT!”

Malamnya, sudah bisa di tebak, saya gak bisa tidur karena sibuk membayangkan keindahan Pulau Seribu dengan terumbu karangnya. Gak sabar buat snorkeling. Gak sabar ketemu nemo. Gak sabar ketemu bulu babi dan bulu-bulu yang lainnya!

Sial Atau... Banget?

Hidup tak ubahnya ombak samudra; kadang tenang, kadang berombak ganas. Kadang kita diatas, kadang kita di bawah (paling suka yang ‘tengah-tengah’, sih). Kadang kita melambung tinggi, kadang kita terperosok ke lembah nista (comberan got-Red). Kadang suka, kadang duka (Kalo dalam bahasa India: Kabhi Khushi Kabhi Ghum. [Lho?]). Kadang beruntung, kadang sial. Keduanya selalu datang silih berganti. Tak jarang beriringan. 

2 bulan ng-eksis di Jakarta memaksa saya untuk bersahabat dengan transportasi kebanggaan Jakarta, Baswe. Malam itu, sehabis mengunjungi beberapa museum di Jakarta, seperti biasa kita harus menunggu sang pujaan hati tiba, baswe. Badan rasanya udah mau rontok, pegal semua, ditambah ransel yang lumayan berat, di tambah hujan, di tambah gue jomblo, menjadikan malam itu malam yang...—ibarat penyakit kangker, udah “stadium 21”/ibarat gunung, statusnya “ERUPSI”—Mematikan.

Belum juga baswe datang, triliyunan penumpang lain pun mulai mengerubuti dan menyerbu halte. Demi keamanan barang bawaan, saya pun mencoba merubah posisi ransel dari posisi belakang ke depan, dari pundak ke dada, biar bisa di peluk gitu (lumayan 'helpful', sih, buat gue). Ketika saya mulai merenggangkan sikut--dalam upaya merubah posisi ransel di tubuh saya--, tiba-tiba...

"Awwwwww"

Suatu Hari di Pecinan Glodok


Suatu pagi di Pecinan Glodok, Jakarta...
"Majalahnya berapaan, bang?"

"Lima rebuan." Ucap si abang sambil ber-hi-five.
Muree banget emang, namanya juga majalah bekas! Tapi, spesial waktu itu yang saya beli bukanlah majalah bekas, tapi majalah new release alias baru terbit--yang setelah saya perhatikan cover-nya ternyata tertempel sebuah stiker yang kurang lebih berbunyi, "HANYA UNTUK DIBACA, TIDAK UNTUK DIBAWA PULANG!" Lha, trus, ini majalah ngutil dari mana?
Lupakan darimana majalah itu berasal. Yang pasti kala itu hatiku serasa bergelora sekaligus gembira loka mendapat majalah baru--baru ngutil--dengan harga super murah. Glodok gitu loh!

Jagalah "Dia"

Perhatian, postingan ini mengandung perbuatan yang tercela. Plis, jangan ditiru, yah, adek-adek! 

Beginilah nasib traveler kere (bukannya ngaku-ngaku kere, tapi emang beginilah adanya. Gak percaya? Belahlah dompetku! *isinya daun singkong*) apa-apa masih harus minjem. Dulu waktu masih awal-awalnya suka traveling, sebelum berangkat jalan-jalan, ritual pertama yang saya lakukan adalah nyari pinjeman ransel. Kere banget, kan? Ransel aja masih minjem. *nangis lewat udel*

Sawah vs Ladang Garam



"Di Kediri sawah yang bagus dimana, yah, kira-kira?" Tanya Agista ke saya.

"Heh? Sawah? Dimana-mana sawah sama aja, kalee." Jawab saya sekenanya.

"Serius, nih, gue nanyak!" Agista mulai nyolot.

"Ngapain lo nanya-nanya sawah? Mau jadi banci sawah, lo?"

"Tante gue dari Jakarta pengen maen ke Kediri buat liat sawah. Dia belom pernah liat sawah."

DEG!!! HELOOOW, SAWAH GITU, LOH!

Air Terjun Penganten (Bisulan)

Bicara tentang tempat-tempat indah eksotis nan bombastis bin erotis pasti pikiran kita akan langsung ngepot menuju spot yang belum terjamah, terekspos ataupun terendus oleh khalayak. #BahasaSilet

Sebagian orang --termasuk saya-- pasti berpikir bahwa able to explore the new exotic place is keren banget! Dan karena saya termasuk cowok yang masih ABABIL (Abege Bau bAn moBIL) terkadang timbul sesuatu ego yang membuat saya penasaran dan terpancing untuk menemukan tempat eksotis yang CTAR CTER tersebut (pecut kalee CTAR CTER). Tapi setelah kejadian ini saya tersadar bahwa Explorer Dongo + Obsesi Kepo = PETAKA!