Sunday, September 17, 2017

Oleh-oleh Baper Saat Traveling


Berbagai macam alasan orang melakukan traveling, antara lain:
1. "Having fun!" mungkin menjadi jawaban yang sering terlontar dari mulut para traveler pada umumnya
2. Cari jodoh
3. Pengen exist, hits, atau kekinian
3. Ada yang agak puitis seperti menemukan diri atau menemukan arti hidup
4. Kepengen baper: yang ini adalah kriteria saya

Baper, singkatan dari "Bawa Perasaan", kalo diartiin dalam bahasa Pekalongan akan menjadi "Take something personally" atau "Bring feelings". Ya, saat traveling saya akan selalu baper, baik saat ketemu traveler lain, ketemu host yang baik, melihat indahnya arsitektur negeri rantau, mengamati eloknya alam di tempat asing. Semuanya akan langsung membikin saya baper. Saat traveling saya gak akan bawa oleh-oleh. Cukup bawa perasaan - karena murah & awet.

Berikut oleh-oleh baper saya...


Baper di Taj Mahal

Temen (yang Travel Expert): *cek itinerary yang saya buat* *pasang muka heran*

Saya: "Kenape sih, lo?"

Temen: "Kok gak ada Taj Mahal di Itinerary lo?"

Saya: "Emm, enggak, ah, kata orang tempatnya biasa aja, udah mainstream gituh!"

Temen: "Seriously, you are going to India, and you will skip Taj Mahal? Come on!"

Saya: "Gitu, yah. Yaudah, deh, gue masukin."

(Saat nyampe Agra)

Ekspektasi saya saat itu amatlah rendah tentang Taj Mahal, maklum saat itu kondisi saya sedang teracuni virus anti-mainstream traveler kekinian, jadinya maunya cuma ngunjungin off-beaten path aja gituh.

Saat membeli tiket masuk Taj Mahal di loket, saya misuh-misuh karena harga tiket berbanding lurus dengan nana tempatnya "Taj MAHAL"; saat itu harga tiket masuknya adalah 750 Rupees (sekitar 150 ribu). Dengan langkah malas saya berjalan memasuki pintu gerbang Taj Mahal.

Saya mulai merasa aura yang lain begitu memasukin pintu gerbang Taj Mahal. Perasaan malas berubah menjadi penasaran yang gak karuan. Sebuah bangunan marmer merah dengan ornamen megah khas Mughal menghiasi pintu gerbang tersebut. Gerbang tersebut berbentuk seolah bingkai foto, yang membingkai Taj Mahal dengan indahnya. Jantung saya pun mulai berdebum kencang melihat bangunan marmer cantik super besar itu terpapang nyata di depan saya...

Deb...

Deb...


Deb...


Jantung saya berdetak bak slow-motion di felem-felem.


"Taj Mahal!" Teriak seorang Ibu kepada anaknya. Anak tersebut hanya bisa diam dengan mata terbelalak, sama seperti saya. Waktu seolah terhenti selama beberapa detik. Dan...


"Mak Tesss...."

Air mata saya terjatuh di lantai marmer. Shit, ngapain pake nangis segala, sih?! Ya, kalau dilihat dari bangunannya, Taj Mahal ini memang terkesan biasa saja, dan udah sering gitu kita lihat di felem-felem. But, believe me, Taj Mahal itu punya aura lain saat kita melihatnya langsung dengan mata bugil. Aura yang bisa bikin kita terdiam bego dan bilang, "Wow!" or simply "Okay, this is India and I have been here.". Harga tiket yang menurut kamu mahal, akan terbayar juga dengan Mahal-nya keindahan yang tersaji.

Catatan (gak) penting: traveling ke India saat itu adalah traveling solo pertama saya keluar negeri dengan hasil nabung pertama kali dari pekerjaan saya, jadi bisa dibayangin donk bapernya kek gimana.

Baper guaranteed


Baper di Jaipur

Rickshaw yang saya tumpangi terperangkap di tengah chaos-nya lalu lintas kota Jaipur. Saat sampai di stasiun, waktu yang tersisa untuk menemukan kereta saya adalah 10 menit. Saya harus antri di mesin pemeriksaan security. Lolos dari security saya masih harus lari-lari kayak orang edan naik tangga penyebrangan untuk menemukan platform kereta saya. Semua tertulis dalam huruf Hindi yang keriting abis kek jembut naga.

Dalam waktu genting seperti ini pikiran jernih sudah menjadi barang langka. Saya seketika panik melihat jam keberangkatan sudah di depan mata (jika ketinggalan kereta, maka saya akan telat sampai ke Delhi dan hangus pula tiket pesawat saya ke Kashmir).

Stuck, saya pun mulai nanya ke orang sekitar.

"Hi, can you show me where the platform X, please? And this train, please?"

Si Ibu-ibu gendut ngecek tiket saya dan selanjutnya berucap, "Aaaaa... Kabhi khusi kabhi ghum...."

"Yeeee. Malah nyanyi!" Saya sewot.

Saya pun ngacir nyari orang lain yang agak waras, "Hi, sir. Can you speak English?"

Si Bapak menggeleng. Gelengan khas India.

OK, you can do it, Hassan! Saya pun mulai berpaling ke seorang wanita muda dan cantik (yang kelihatannya pinter), dia duduk dengan seorang pria yang diduga pacarnya.

"Hi, can you speak English?"

"Yes?" Saya girang karena dia bisa ngomong "Yes"

"Can you show me where the platform X is? I want to go to Delhi, and the train is about to depart now."

"I don't know!" Si cewek menjawab jutek dan tampak malas-malasan.

Saya pun makin panik, sampe pengen teriak ala-ala felem, "TIDAKKKKKKK... DAKKK... DAKKK!!!!!" di tengah kerumunan stasiun. Tapi karena takut kena bogem inspektur di sana, maka saya urungkan niat tersebut.

Kaki saya mulai lemas, saya terduduk pasrah di samping toko kelontong yang lagi jualan aer mineral, hingga pria di samping cewek yang diduga pacarnya tadi berdiri dan menghapiri saya yang mulai mewek.

"Hei, where are you going?" Tanya si cowok.

"Honey!" Si cewek sempat mau mengentikan si cowok.

Si cowok mengacungan tangan ke si cewek, yang kalo di-translate adalah, "Lo gak kasihan ama bocah kampung dari planet lain ini?"

"I want to go to Delhi. This is my ticket. I think it's been too late." jawabku lemas.

"Delhi? Your train is right behind you." Si cowok tersenyum.

Saya ikut kegirangan, ternyata keretanya belum jalan.

"Let me see your ticket... You are on platform number... seat number... Okay, follow me!" Si cowok mengantarkan saya masuk kereta dan membantu saya menemukan kursi saya. Si cewek kelihatan ngambek berat.

"Okay, this is your seat."

"Thank you." Ucapku senang.

"No problem, man. I am happy to help... Sir, please watch my friend, he will go to Delhi. Please tell him once the train has arrived." Ucap si cowok ke bapak penumpang depan saya.

"Do you have food? Can I buy you some food?" Tanya dia ke saya.

"Ya, ampun sebegitu miskinnya kah muka saya ini?" Ucapku miris dalam hati.

Karena gengsi saya pun menjawab, "No, I have food in my backpack. Don't bother, I'm okay. Thank you for your help."

Kereta pun mulai berjalan, si cowok lari keluar gerbong dan melambaikan tangannya ke saya sambil teriak, "TAKE CARE!!!"

Aduh... Baper aku, mas! T_T

Baper di Gorgan

Dari semua negara yang udah saya kunjungin, mungkin Iran-lah yang paling parah membuat saya baper tingkat astronot. Bagaimana tidak, saya berasa jadi selebritis saat traveling ke negara tersebut.

Pikiran kalau Iran itu serem langsung hilang seketika sesaat saya keluar dari pintu hostel. Orang-orangnya cakep, ramah, murah senyum dan open dengan turis asing seperti saya. Setiap seratus meter pasti ada aja yang ngajak foto, selfi bareng, atau ngajak cap-cip-cus dalam Bahasa Inggris. Mungkin karena mereka jarang melihat muka saya yang eksotis parah ini.

Hanya dengan mengucap, "Salam!" (Ucapan "Hi" yang jamak diucapkan oleh orang Iran) ke orang di pinggir jalan, saya bisa langsung diundang makan bareng atau menginap di rumah mereka.

Di Gorgan, saya diundang oleh salah satu follower saya di Instagram, namanya Ali (sebagian cerita baper saya tentang Ali bisa dibaca di link berikut). 

Setiba saya di depan rumah Ali, saya di sambut bokap dan nyokap Ali di depan pagar rumah mereka. Keduanya menyambut saya dengan ramah, menyiapkan makan malam serta membersihkan kamar buat saya. Meski saya gak paham mereka ngomong apa, tapi kelihatan banget dari raut muka mereka bahwa mereka senang dengan kedatangan saya.

Paginya si Ali mengajak saya keliling kota Gorgan dan house hopping. 

House hopping? Yes, mengunjungi rumah-rumah orang sekitar satu-per-satu. Saya yang suka fotografi potrait muka orang, langsung kegirangan.

Rumah pertama yang kami kunjungi adalah Kantor Kecamatan, tempat bokapnya Ali bekerja. Selangkah saya memasuki kantor, orang satu kantor langsung menghampiri saya dengan muka sumringah, berbaris, memeluk, dan menciumi saya satu-per-satu (ciuman di pipi antar sesama lelaki di sini dianggap biasa, tapi tetap gak biasa bagi saya).

"Welcome to Gorgan, Hassan! Welcome to our village!" Ucap si Vahid yang bisa bahasa Inggris.

"You are our special guest! You are the first foreigner who visits our village, we are so honored to have you here!!" tambahnya.

Ya, ampun, segitunya. Saya seketika baper.

Diajak Ali mampir ke Kecamatan

4 hari di Gorgan, selain mengunjungi tempat wisata di Gorgan, hari-hari saya diisi dengan diarak dan mengunjungi satu-per-satu rumah tetangga dan sanak keluarga Ali. Gak tanggung-tanggung, setiap rumah yang saya datangin ramai-ramai dan berlomba-lomba menyambut saya bak tamu agung dengan menghidangkan makanan terlezat mereka yang disajikan di atas karpet Persia. Perut saya rasanya mau meledak saking kenyangnya. Setiap mampir satu rumah, saya pasti nunut beol. Hihihi.

MAKANNN!!!

CUTE PEOPLE

Saking bangganya Ali dengan keberadaan saya, setiap lewat kerumunan di jalan, dia selalu mengklakson orang-orang di pinggir jalan--maksudnya memberikan sinyal ke mereka kalo dia sedang kedatangan "tamu special pake telor karet dua"-- yaitu saya. Wakakak!

Saat pulang, Si Ali mengantarkan saya ke terminal bus untuk kembali ke Tehran. Sebelum bus jalan, dia menunjukkan handphone-nye ke saya. Di aplikasi Google Translate-nya tertulis, "Thank you, Hassan Nadaf (Nama Persia yang dia berikan ke saya). Thank you for your coming. Me and my family are so happy because of you. Next time you come again, please stay longer."

FAK! AKU BAPERRR, CUK!

Baper di Turkey


Hari terakhir di suatu negara bisa jadi adalah hari terbaper saya saat traveling. Hari di mana saya biasanya gak ngapa-ngapain. Hari terakhir biasanya akan saya habiskan dengan cuma duduk di pinggir jalan sambil mandangin orang lewat atau sekedar duduk-duduk di taman.

Saat di Turki, saya menghabiskan hari terakhir saya di sebuah taman di tengah kota Istanbul yang dingin karena sedang winter. Saya tidur telentang di atas rerumputan yang agak bersalju, dan memejamkan mata (ya, saya orangnya emang agak sinetron, sih!).

Saya mencoba flashback tentang:
- apa aja yang sudah saya lalui di negara ini
- orang-orang baik seperti apa saja yang sudah saya temui
- berapa dollar duit yang sudah saya habiskan demi traveling
- hingga mulai berfikir gimana caranya biar ngumpulin duit dan traveling lagi

Saat flashback itulah biasanya saya akan baper, serta kadang menangis (karena duit abis), atau menangis membayangkan kira-kira kapan bisa ke sini lagi, atau mungkin saya gak akan pernah ke sini lagi?

Tess... Air mata saya menetes dari pipi kanan... Saya mulai mewek.


Tess... Air mata selanjutnya menetes dari pipi kiri... Saya mulai kalut sesenggukan.

Tess... Air mata saya selanjutnya menetes di hidung. 

Wait, kok bisa air mata menetes di hidung?

Dan, kenapa air mata baunya busuk? 

Saat saya membuka mata, ternyata ada burung camar yang lagi buang hajat. Acara baper saya pun ternodai oleh tai burung camar yang hina.

Habis traveling, terbitlah baper